Musim Kemarau di Desaku


Waktu baru menunjukkan jam 21.00 WIB, tumben mata saya kedua-duanya sudah pengen merem, padahal tadi siang juga sudah tidur, heran saya.

Sedikit curhat saya saat ini belum bekerja alias nganggur :D, jadi kerjaannya ya hanya makan,main,dan tidur (enak kan, ya enaklah).

Kalian tahu ini bulan apa? Yap, ini bulan Agustus dan sebentar lagi bulan September. Lalu apa hubungannya? Seperti teman-teman ketahui ini adalah musim kemarau dan itu artinya tidak ada hujan, kalau hujan tidak turun maka bisa dipastikan Dusun tempat tinggalku kekeringan karena memang belum ada saluran pam, dan warga masih mengandalkan air hujan yang disimpan dalam sumur.

Situasi seperti ini selalu terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu, sumur sebagai tempat penampungan air sudah tak berisi lagi, untuk mencukupi kebutuhan air warga mengambil air di sumur milik orang lain yang jaraknya lumayan jauh dari rumah mereka, begitupun dengan saya.

Setiap pagi sekitar jam 06.00 saya sudah bersiap-siap untuk mengambil air (mek banyu), alat yang saya siapkan yaitu Motor, dua buah jirigen,dan sebuah timba, kemudia saya bergegas menuju rumah yang sumurnya masih tersedia air, tak lupa juga saya meminta ijin dulu kepada pemilik sumur, dalam sehari saya biasanya bolak-balik tiga kali, (capek ya mas? Ya capek lah).

Seiring munculnya penjual air, warga di tempatku mulai jarang mengambil air di Dusun lain lagi. Warga banyak yang memesan air dari penjual, karena dianggap lebih praktis. Untuk dua toren air yang dibeli bisa digunakan untuk dua rumah yang masing-masing punya satu sumur, air tersebut bisa digunakan sekitar dua minggu, harga dua toren air antara 100-130, jika sumber air semakin jauh maka harganya juga naik.

Harapan saya semoga kedepannya Dusun tempat saya tinggal saat ini tidak kekurangan air lagi saat musim kemarau, dan buat teman-teman gunakanlah air dengan baik, karena air adalah kebutuhan pokok warga yang banyak manfaatnya untuk aktivitas sehari-hari.

Oke, itulah sedikit gambaran tempat tinggalku saat musim kemarau tiba. Jika ada kritik dan saran bisa tulis dikolom komentar yang tersedia.

12 Responses to "Musim Kemarau di Desaku"

  1. Untung sekarang sudah masuk musim hujan yaa, jadi kamu nggak repot-repot buat jauh-jauh ambil air lagi, karena sumur-sumur di desa kamu pasti sudah terisi oleh air hujan.

    Aku juga cuma bisa berharap, semoga daerah desa kamu bisa cepat punya saluran air sendiri, supaya kamu dan warga sekitar nggak kesulitan ketika musim kemarau datang buat ambil air. Sabar yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya udah jadi kebiasaan dari aku kecil ningga sekarang mas, sampai sekarang belum.ada PDAM nyampek desaku, kalo di kota sudah aman mas, air lancar. Hehehe

      Amin doanya semoga cepet terelisasi.

      Hapus
  2. Sayangnya seakarng bukan bulan agustus,
    tapi udah masuk musim hujan.

    jadi mulai sekarng kamu harus nabung banyak air supaya nanti pas bulan agustus dateng kamu ga kekeringan wakakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah gimana caranya nabung mas, emangnya uang hehehe.

      Ya aku berharap semoga cepet ada saluran air dari pemerintah ke desaku.

      Hapus
  3. Kayaknya kalau musim kemarau emang itu problem utamanya ya. Saran gue kayaknya bikin penampungan air yang bisa di dapat di musim hujan agar waktu musim kemaraunya bisa teratasi masalah kekeringan kaya bulan agustus tadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penampungan udah ada di desa tapi belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan warga mas.

      Ya nunggu ada saluran air saja, soalnya di kota sudah ada. Tinggal nunggu nyampek desa.

      Hapus
  4. Buat yang tinggal di Kota besar, mungkin akan jarang mengalami masalah kek gini, ya Bro Ahmad. Tapi, lain ceritanya yang tinggal di desa. Apalagi gue.

    Sama sih, dulu waktu SMP sering terjadi kemarau panjang, alhasil, harus bawa air dari rumah orang ke rumah kita.

    Tapi kalo di desa gue sih, biasanya mereka punya bak yang besar dan cukup menampung air untuk bertahan selam musim kemarau. Ya kembali seperti yang lu bilang bro. Harus cermat menggunakan air.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kalo di kota sih aman aja mas, solnya ada saluran air berbayar tiap bulannya, di desa mengandalkan air tadah hujan.

      Kalo gak.ada hujan ya kekeringan deh. Hehehe

      Ya buat yang di kota hematlah air, biar anak cucu bisa menikmati.

      Hapus
  5. Walaupun aku gak tinggal di daerah yang sering kekeringan, tapi pernah ngalamin hal kayak gini juga waktu kerja. Waktu butuh air bingung mau ambil dimana, setelah tanya" warga setempat, disana ternyata airnya beli. Mau minta sama warganya jadi sungkan, akhirnya digantiin dah tu airnya alias dibeli. Besoknya, bawa sendiri dah tuh airnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak bisa dipungkiri air emng jadi sumber kehidupan, soalnya kalo gak ada air gak bisa mandi, gak bisa minum juga.

      Hapus
  6. Gue kalo masuk musim kemarau malah girang :D
    karna gue bisa main sepak bola dilahan kering didesa yang deket sama tempat gue tinggal

    hahaha baca tentang sumber air, gue teringat kata kata "SUMBER AIR SODEKAT" haha anjir

    nah
    ni kan sudah masuk musim ujan kan san, lebih baik lu mulai simpen deh air di rumah lu buat jaga jaga, beli drum gede, simpen deh di situ airnya
    eh tapi jangan lupa ditutup ya, hati hati jadi tempat berkembang biak nyamuk loh...
    hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita susah kamu malah seneng njiir.

      Ya kalo cuma drum gak bisa mencukupi selama musim kemarau. Sekarang udah ada yg jual kok.

      Masih bisa minum dan mandi juga hihihi.

      Hapus